Polarisasi Padi Organik : Upaya Penyelamatan Sumber Daya Alam Untuk Ketahanan Pangan

Pagi itu, Selasa (30/10) cuaca Ujuang Luak, Nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung cukup terik. Sejauh mata memandang terhampar pepadian yang menguning dengan petakan yang tidak begitu lebar. Dari kejauhan terdengar suara talempong lambat mengalun. Iramanya riang dengan ketukan teratur.

Di atas pematang sawah yang ukurannya tak sampai dua jengkal orang dewasa, tampak sekumpulan ibu-ibu berbaju kurung yang tak seragam. Bak itik pulang petang mereka berbaris menjunjung jamba makan di atas kepala sembari menjinjing cerek di tangan kanan. Langkah kaki mereka tak bergegas di atas pematang. Senda gurau dengan dialek khas Nagari Sumpur Kudus terdengar saat ibu-ibu itu melompat parit kecil di pematang sawah.

Hari itu merupakan hari penting bagi masyarakat petani di Nagari Sumpur Kudus. Betapa tidak, padi yang mereka tanam empat bulan silam sudah memasuki masa panen. Tidak berlebihan pula jika ratusan petani menghelat perayaan panen raya hari itu. Lebih-lebih padi yang ditanam merupakan padi yang diolah secara organik.

Pembudidayaan padi sawah dengan pola tanam organik yang tersistematis memang belum lama digiatkan masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus. Meski begitu, cara kerja yang terbilang semi organik dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari, sudah lama dilakukan. Salah satu buktinya dengan menggunakan abu kayu bakar yang ditabur ke lahan sawah. Selain itu, pola penetapan tanam padi serentak yang telah berlangsung sejak lama dengan melibatkan ninik mamak, tokoh masyarakat, ulama, dan kelompok tani terbilang salah satu kearifan lokal yang kerap dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam. Kendati tidak begitu konsisten dilakukan masyarakat tapi kearifan lokal tersebut jadi modal dasar untuk mengembangkan polarisasi padi organik.

Dalam upaya menata polarisasi bertani masyarakat secara baik dan terukur dengan sistem organik ini, sejak 2016, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi ambil bagian di Nagari Sumpur Kudus. KKI Warsi bersama Perkumpulan Petani Organik (PPO) Santiago kemudian menginisiasi lahirnya Kelompok Sekolah Lapangan (SL) Padi Organik di Nagari Sumpur Kudus melalui Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sumpur Kudus. Melalui SL Padi Organik, sekira 40 orang petani di Nagari Sumpur Kudus membuat komitmen bersama dalam hal penerapan sistem pertanian organik.

Pembentukan SL Padi Organik dimaksudkan sebagai kelas pembelajaran bagi petani. Minimal satu minggu sekali KKI Warsi bersama PPO Santiago mengajak anggota SL untuk melakukan pengamatan terhadap padi yang mereka tanam dengan membaginya menjadi 6 kelompok pembelajaran. Tidak hanya itu, kelompok SL juga diajak melakukan penelitian dan pengujian, seperti uji ketahanan air, membandingkan tekstur tanah, mengamati ekosistem sawah, sampai kepada membuat ekstrak ramuan nabati dari sumber daya alam lokal.

Masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus yang tergabung dalam SL Padi Organik melakukan pembelajaran dengan taknik sederhana. Sebagai contoh, uji ketahanan air yang dilakukan terhadap lumpur sawah. Petani membuat semacam sampel, seperti padi yang ditanam di lumpur sawah murni, padi yang ditanam di lumpur yang bercampur jerami, ada juga yang ditanam dalam campuran kotoran hewan, ampas kelapa, abu kayu, limbah kakao dan sebagainya.

Pun begitu dengan teknik percobaan unsur hara terhadap bahan-bahan yang akan dicampurkan ke lumpur sawah. Mereka menggunakan alat sederhana untuk mengukur nutrisi tanah, seperti menggunakan bola lampu yang kabelnya dicelupkan ke sampel-sampel yang telah dipersiapkan sebelumnya. Mereka membuat rangkaian listrik dengan menggunakan paralon sebagai pegangan dan bola lampu disalurkan ke aliran listrik. Sampel yang menghasilkan nyala lampu lebih terang berarti mengandung unsur hara yang tinggi.

Berdasarkan hasil pengamatan petani yang dilakukan setiap minggu, petani menemukan ekosistem sawah yang makin beragam sejak menghentikan penggunaan bahan kimia. Seperti bermunculan lubang belut, kecebong, siput, dan lain sebagainya. Sementara itu, petani menemukan fakta bahwa ekstrak nabati dari dedaunan yang menyengat cukup ampuh sebagai bahan pengusir hama pengganggu tanaman padi.

Polarisasi padi organik yang digiatkan masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus patut diacungi jempol. Bisa dikatakan polarisasi tersebut berjalan dengan baik. Buktinya mereka dapat menghasilkan 7,7 ton padi per 1 hektare. Ini meningkat 4 ton dibandingkan dengan polarisasi padi konvensional.

Berikut rincian hasil pengamatan SL Padi Organik yang memengaruhi hasil produksi padi berdasarkan perlakuan:

Pengamatan kelompok 1 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur kotoran itik, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 5,92 ton.

Pengamatan kelompok 2 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur abu kayu, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 5,28 ton.

Pengamatan kelompok 3 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur bongkol pisang, abu dapur, kotoran ayam, kotoran sapi, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 4,32 ton.

Pengamatan kelompok 4 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur abu kayu dan kotoran kambing, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 3,52 ton.

Pengamatan kelompok 5 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur abu kayu, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 7 ton.

Pengamatan kelompok 6 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur jerami lapuk, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 7,72 ton.

Berdasarkan hasil ubiran perlakuan di atas, petani yang tergabung dalam SL Padi Organik menyimpulkan bahwa polarisasi padi organik yang terbaik adalah menggunakan jerami lapuk. Sehingga, masyarakat tani setempat membuat kesepakatan adat sebagai plakat bahwa mulai dari sekarang masyarakat tani di Nagari Sumpur Kudus dilarang membakar jerami, karena dapat menambah jumlah produksi padi jika dimanfaatkan.

Polarisasi padi organik ini dapat dikatakan sebagai salah satu bagian dari kerja Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM). Sebagai contoh, masyarakat di Nagari Sumpur Kudus umumnya kerap bergaul dekat dengan hutan dan sungai. Mereka yang berada di pinggiran sungai, memenuhi kebutuhan pangannya secara tradisional, yaitu melalui pengolahan sawah yang mana sumber airnya berasal dari hutan.

LPHN Sumpur Kudus menjaga hutan mereka sebagai bentuk penyelamatan sumber daya alam sekaligus upaya berkesinambungan dalam menjaga ketahanan pangan. Hutan bagi mereka adalah penghidupan. Jika hutan rusak, sumber air akan rusak. Jika sumber air rusak, lahan sawah mereka akan kekeringan. Itu artinya bencana bagi mereka. (Team Public Awareness)

Tinggalkan Balasan